salah satu turis asing yang mengambil gambar pada kegiatan festival.
Banjarmasin, KS
Insiden pengeboman bunuh diri di hotel Rizt Carlton dan JW Marriot di Jakarta, Jumat (17/7) berimbas langsung ke sektor dunia parisisata di daerah, termasuk di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Tanpa ada konfirmasi alasan yang jelas, tiga rombongan warga negara asing (WNA) yang berencana menghadiri Festival Budaya Pasar Terapung 2009 di Banjarmasin tangal 18-21 Juli 2009, mengurungkan niat mereka.
“Satu rombongan dari Belanda, dua rombongan dari berbagai negara, tidak jadi hadir,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata kepada wartawan, di sela sela pembukaan festival akhir pekan tadi.
Ketidakhadiran WNA diyakni rasa khawatir mereka pascapengeboman yang terjadi di Jakarta. Kondisi diharapkan tidak berlarut larut, karena akan merugikan daerah di sektor pariwisata.
Kendati demikian, festival agenda tahunan yang dibuka Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin ini dikunjungi beberapa orang WNA yang turut membaur dalam kegiatan seperti pameran kuliner, kesenian daerah dan budaya sungai yang dipusatkan di Sungai Martapura.
Bill, WNA asal Selandia Baru mengaku menikmati rangkaian kegiatan dan kagum melihat kebudayaan dan kesenian yang ada di Kalsel. dengan seperangkat kamera, dia tidak bosan bosan mengambil gambar ssaat kegiatan.
Pembukaan festival dihadiri Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Iptek Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Titin Sukarya yang mengkhawatirkan dampak buruk terhadap aksi peledakan bom di Jakarta terhadap pariwisata daerah.
Diakauinya, dengan kejadian ledakan it, tugas pihaknya di instansi kepariwisataan dan pemerintah tambah berat. Namun dia mengingatkan untuk terus optimis dan selalu bersemangat berinvonasi dan mengelola aset wisata.
Sementaar itu, Rudy Ariffin gubernur saat membukan festival mengajak semua pihak termasuk pemerintah kabupaten dan kota dengan pemerintah provinsi untuk sama-sama mengembangkan sektor wisata.
Dia berharap pula agar kejadian ledakan bom di ibukota tidak berdampak pada merosotnya upaya membangkitkan kepariwisataan di daerah. Justru kejadian itu harus menjadi cambuk untuk bangkit dan lebih baik lagi.
Festival diisi dengan kegisatan jukung tradisional, festival kuliner, kerajinan, lukisan Banjar dan alat tradisional masyarakat, pameran, pencak silat dan tari daerah. Pada malam harinya, acara dimeriahkan dengan kembang api dan parade tanglong di Sungai Martapura Banjarmasin. slm
Tampilkan postingan dengan label SENI BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI BUDAYA. Tampilkan semua postingan
21 Juli 2009
Tiga Rombongan WNA Batal ke Festival Budaya Pasar Terapung
salah satu turis asing yang mengambil gambar pada kegiatan festival.
Banjarmasin, KS
Insiden pengeboman bunuh diri di hotel Rizt Carlton dan JW Marriot di Jakarta, Jumat (17/7) berimbas langsung ke sektor dunia parisisata di daerah, termasuk di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Tanpa ada konfirmasi alasan yang jelas, tiga rombongan warga negara asing (WNA) yang berencana menghadiri Festival Budaya Pasar Terapung 2009 di Banjarmasin tangal 18-21 Juli 2009, mengurungkan niat mereka.
“Satu rombongan dari Belanda, dua rombongan dari berbagai negara, tidak jadi hadir,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata kepada wartawan, di sela sela pembukaan festival akhir pekan tadi.
Ketidakhadiran WNA diyakni rasa khawatir mereka pascapengeboman yang terjadi di Jakarta. Kondisi diharapkan tidak berlarut larut, karena akan merugikan daerah di sektor pariwisata.
Kendati demikian, festival agenda tahunan yang dibuka Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin ini dikunjungi beberapa orang WNA yang turut membaur dalam kegiatan seperti pameran kuliner, kesenian daerah dan budaya sungai yang dipusatkan di Sungai Martapura.
Bill, WNA asal Selandia Baru mengaku menikmati rangkaian kegiatan dan kagum melihat kebudayaan dan kesenian yang ada di Kalsel. dengan seperangkat kamera, dia tidak bosan bosan mengambil gambar ssaat kegiatan.
Pembukaan festival dihadiri Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Iptek Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Titin Sukarya yang mengkhawatirkan dampak buruk terhadap aksi peledakan bom di Jakarta terhadap pariwisata daerah.
Diakauinya, dengan kejadian ledakan it, tugas pihaknya di instansi kepariwisataan dan pemerintah tambah berat. Namun dia mengingatkan untuk terus optimis dan selalu bersemangat berinvonasi dan mengelola aset wisata.
Sementaar itu, Rudy Ariffin gubernur saat membukan festival mengajak semua pihak termasuk pemerintah kabupaten dan kota dengan pemerintah provinsi untuk sama-sama mengembangkan sektor wisata.
Dia berharap pula agar kejadian ledakan bom di ibukota tidak berdampak pada merosotnya upaya membangkitkan kepariwisataan di daerah. Justru kejadian itu harus menjadi cambuk untuk bangkit dan lebih baik lagi.
Festival diisi dengan kegisatan jukung tradisional, festival kuliner, kerajinan, lukisan Banjar dan alat tradisional masyarakat, pameran, pencak silat dan tari daerah. Pada malam harinya, acara dimeriahkan dengan kembang api dan parade tanglong di Sungai Martapura Banjarmasin. slm
02 Juni 2009
Kesenian Mamanda Banjarmasin Juara II Nasional
Banjarmasin, KS
Tim Mamanda Teater Banjarmasin yang bertanding di Apresiasi Media Pertunjukan Rakyat tingkat nasional di Malang Jawa Timur tanggal 29 Mei sampai 1 Juni lalu, berhasil meraih juara II.
Tim Mamanda pimpinan M Zaini Ajak ini tampil dengan 23 pemain membawakan judul Merajut Asa di Palinggam Cahaya dengan sutradara Drs Sirajul Huda, mampu mengalahkan tim unggulan seperti dari Jawa Timur dan DIY Yogyakarta yang ada dalam satu grup dengan Kalsel.
Peringkat ketiga diraih tim kesenian dari Papua Barat dan juara I adalah tim dari Sulawesi Selatan (Sulsel) yang sebelumnya pernah dikalahkan tim kesenian Mamanda pada ajajng pertandingan tingkat regional Kalimantan Sulawesi tahun 2008 lalu.
Kemenangan tim kebanggan Kalsel ini menurut Kepala Bidang Media Komunikasi, Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Kalsel, H Masrani, tidak terlepas dari kolaborasi pemain yang mampu berakting secara apik.
Selain itu, pemain juga berhasil menyampaikan informasi pembangunan, teutama yang berkaitan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dengan baik.
“Ini karena didukung pemain senior dan support mahasiswa Kalsel yang ikut hadir dalam pertunjukkan,” ujarnya.
Masrani juga mengatakan, keberhasilan Tim Mamanda dalam ajang yang diselanggarakan setiap dua tahun ini merupakan hasil pembinaan yang baik oleh Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatikan (Dishubkominfo) Kalsel, serta doa masyarakat Kalsel.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak yang diberikan, sehingga berhasil mencapai prestasi yang membanggakan ini,” ujarnya.
Kontestan yang bertanding di Apresiasi Media Pertunjukan Rakyat sebanyak 8 tim yang mewakili dari empat regional se Indonesia. Seleksi di tingkat regional dilakukan setiap tahun.
“Jadi satu regional mengirim dua tim,” jelasnya.
Tim Mamanda Teater Banjarmasin berangkat dengan jumlah rombongan 29 orang yang terdiri dari enam ofisial dan anggota FK Mitra (Forum Komunikasi Media Tradisional, dan pemain,
Kriteria perlombaan di ajang tahunan tersebut lebih menonjolkan penyampaian informasi kepada masyarakat agar pesan yang dibawa dapat diterima dan dipahami. “Jurinya antara lain dari Sekolah Kesenian Jakarta, Ussi Karunding, pakar UI dan lain lain,” jelas Masrani.
Mamanda merupakan kesenian tradisional masyarakat Kalsel yang berwujud teater rakyat dengan lakon yang bersumber dari syair lama dan hikayat, serta didukung tokoh utama yang wajib ada, yakni sang Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri, Panglima Perang, Harapan I dan Harapan II, Khadam/Badut, serta Sandut/Putri. Masing-masing tokoh memiliki peran sentral tersendiri dalam setiap lakonnya.
Merunut sejarahnya, mamanda lahir dari kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897 yang dulunya di Kalsel bernama Komedi Indra Bangsawan. slm
28 Mei 2009
Mamanda Tampil di Festival Nasional
Teater Banjarmasin saat menampilkan aksikesenian mamanda (foto ist/ks)
Banjarmasin, KS
Untuk kesekian kalinya, kesenian tradisional Kalimantan Selatan mamanda tampil di festival tingkat nasional yang bertajuk Apresiasi Media Tradisional, 29 Mei sampai 1 Juni 2009 di Malang, Jawa Timur.
Grup mamanda yang akan bertanding dengan 8 kontestan se Indonesia tersebut berasal dari Teater Banjarmasin, yang sebelumnya berhasil meraih juara tingkat regional Kalimantan dan Sulawesi.
“Anggota rombongan yang diberangkatkan berjumlah 29 orang, yang terdiri dari enam ofisial dan anggota FK Mitra (Forum Komunikasi Media Tradisional, red) dan 23 pemain (mamanda, red),” kata Kepala Bidang Media Komunikasi, Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Kalsel, H Masrani kepada Barito Post, Kamis (28/5).
Meskipun tidak mematok target dalam kompetisi tersebut, Masrani berharap kelompok kesenian kebanggaan Kalsel ini bisa meraih prestasi yang membanggakan dan membawa harum nama daerah di tingkat nasional. “Kita mohon doa dari masyarakat Kalsel,” pintanya.
Dijelaskan, kriteria perlombaan di ajang tahunan tersebut lebih menonjolkan penyampaian informasi kepada masyarakat agar pesan yang dibawa dapat diterima dan dipahami. “Kenapa kesenian mamanda yang mewakili, karena mereka menjadi juara regional Kalimantan dan Sulawesi tahun 2008 lalu,” jelas Masrani.
Mamanda merupakan kesenian tradisional masyarakat Kalsel yang berwujud teater rakyat dengan lakon yang bersumber dari syair lama dan hikayat, serta didukung tokoh utama yang wajib ada, yakni sang Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri, Panglima Perang, Harapan I dan Harapan II, Khadam/Badut, serta Sandut/Putri. Masing-masing tokoh memiliki peran sentral tersendiri dalam setiap lakonnya.
Merunut sejarahnya, mamanda lahir dari kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897 yang dulunya di Kalsel bernama Komedi Indra Bangsawan.
Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau lebih tenar dengan Badamuluk dan saat ini lebih dikenal dengan sebutan mamanda.
Sepintas, teater rakyat ini mirip dengan kesenian lenong atau ketoprak yang memiliki ciri adanya hubungan emosional antara pemain dan penonton. Dalam pementasan lenong maupun mamanda, penonton dapat langsung memberi tanggapan terhadap jalannya cerita, sehingga semakin menghidupkan aura pergelaran yang tengah berlangsung.
Mamanda kini mengarah kepada perkembangan kesenian yang lebih populer. Meski begitu, kekhasannya masih tetap terjaga, terutama dalam hal penggunaan bahasa Banjar, simbolisasi nilai-nilai budaya, dan pesan-pesan sosial yang disampaikannya. Struktur dan karakteristik yang menjadi kekhasan mamanda tidak pernah berubah. slm
01 Mei 2009
DKD Mencari 10 Penyanyi Lagu Banja
Prakongres Kebudayaan Banjar II-Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin (tengah), didampingi Wakil Gubernur Kalsel, M Rosehan NB (kiri) dan Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, Bihamn Muliansyah saat menghadiri Prakongres Kebudayaan Banjar II,Jumat (1/5) di Griya Cenderamata Banjaramsin. (foto ist/brt)
Banjarmasin, Ks
Sehubungan peluncuran album lagu Banjar bertajuk Bailang, Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalsel akan menyeleksi penyanyi penyanyi di daerah yang audisinya direncanakan minggu ketiga bulan Mei mendatang.
Seleksi yang dimulai di Kabupaten Tabalong ini bekerja sama dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, dan dinas dinas terkait di 13 kabupaten kota se Kalsel.
Penjaringan tahap awal akan memilih sekitar 65 penyanyi lagu lagu Banjar yang akan menjalani masa karantina di Kota Banjarmasin beberapa waktu sampai akhirnya akan dipilih 10 terbaik.
“10 penyanyi ini yang akan membawakan lagu lagu di album Bailang nanti, total lagu 13 judul,” ujar Ketua DKD Kalsel, HM Rosehan NB SH kepada wartawan, Jum at (1/5).
Rosehan yang juga Wakil Gubernur Kalsel ini rencananya akan membawakan tiga lagu masing masing berjudul Uma Abah, Sangu Batulak, dan Bailang yang merupakan lagu andalan dalam album.
Rosehan memberikan sedikit gambaran isi album berbentuk Digital Video Disc (DVD) tersebut. Visual yang ditampilkan akan kental bernuansa daerah dan akan menampilkan budaya budaya yang dimiliki.
“Tiap lagu akan diberi nuansa daerah seperti gambaran obyek wisata, makanan khas dan sebagainya sesuai judul,” terangnya.
Album tersebut diyakni mampu memberikan hiburan alternatif kepada masyarakat yang ingin melestarikan budaya lokal, terutama warga Kalsel yang bertempat tinggal di luar daerah seperti di pulau Jawa, Sulawesi maupun Sumatera.
,otovasi lain dalam peluncuran album lagu lagu daerah Banjar ini lanjutnya, untuk mengimbangi boomingnya lagu lagu yang dibawakan anak anak band seperti Peterpan, ST12, Radja, Ungu, Dmasiv, dan sederet kelompok musik lainnya.
Bukan tidak mungkin lanjutnya, generasi muda akan mudah melupakan kebudayaan daerah sendiri, khususnya yang berkenaan dengan lagu lagu Banjar yang tidak sedikit mengandung nilai nasehat danpesan moral.
“Album ini kalau selesai, kita bagikan gratis pada peringatan HUT Kalsel Agustus mendatang dan kalau masih bisa, juga pada setiap peringatan HUT kabupaten kota,” janji Rosehan. slm
22 April 2009
Banjarmasin dan Martapura jadi Alternatif Replika Keraton Banjar
Banjarmasin, KS
Rencana pembangunan replika keraton Banjar tetap dijalankan dengan diawali dengan penelitian. Hasilnya, Kota Banjarmasin dan Martapura menjadi obyek yang akan dipertimbangkan.
Penelitian dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daeah Provinsi Kalsel bekerjasama dengan Unlam Banjarmasin, mencakup lokasi dan desain bangunan yang akan dipakai pada replika.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalsel Ir Suryatinah kepada wartawan menekankan pembangunan replika Keraton Banjar adalah untuk media belajar dan pariwisata.
“Jangan asal dibangun, tetapi yang penting lokasinya harus mudah diakses dan untuk media belajar serta pariwisata. Sehingga orang luar mengetahui sejarah kerajaan Banjar yang terkenal di Kalsel,” ujarnya usai Pembukaan Seminar Kajian Lokasi Pembangunan Model Replika Kerajaan Banjar, Kamis (23/4).
Seminar menghadirkan pihak terkait diantaranya budayawan, dinas pemuda, olahraga, kebudayaan dan pariwisata dan pihak lainnya.
Pada analisis pemilihan lokasi pembangunan replika Keraton Banjar, Kota Banjaramsin memiliki skor 12 atau tertinggi dibanding daerah lainnya.
Artinya, Banjarmasin dinilai kaya akan aspek sejarah, aspek arkeologi dan arsitektur.
Dari segi sejarah, di Kota Banjarmasin terdapat Kampung Kuin sebagai lokasi keraton pertama, Banua Anyar, kawasan Sei Mesa yang juga lokasi keraton Banjar serta banyak dokumentasi sejarah.
Pada Kota Banjarmasin, juga terdapat makam raja-raja dan mesjid tradisional serta terdapat rumah rumah dan pola perkampungan tradisional lengkap dengan kehidupan masyarakatnya.
Sedangkan pada Kota Martapura, terdapat lokasi Keraton Banjar di Kampung Keraton (eks RS Ratu Zaleha), Batang Banyu/Teluk Selong Ulu dan Karang Intan.
“Alternatif lokasi di Kabupaten Banjar misalnya di eks Rumah Sakit Ratu Zaleha, Kampung Keraton dan Teluk Selong. Semua itu menggambarkan replika sesungguhnya dari Keraton Banjar dulu,” terang mantan kepala dinas kelautan dan perikanan provinsi Kalsel itu.
Kondisi sesungguhnya yang menggambarkan tradisi zaman dulu misalnya masyarakat beragama Islam, religius, memelihara budaya sungai, hubungan kekerabatan dan memelihara tradisi.
Selain Kota Banjarmasin dan Martapura, alternative lokasi lainnya adalah di Amuntai, Marabahan dan Banjarbaru.
Suriatinah mengungkapkan, setelah diseminarkan, maka nanti akan ditetapkan desain yang dipakai dari replika Keraton Banjar yang akan dibangun.
Pada seminar yang dibuka Sekdaprov Kalsel Muchlis Gafury kemarin, tim peneliti merekomendasikan berbagai hal. Diantaranya adalah perlu adanya kajian lanjutan berkait bentuk arsitektur keraton yang akan dibangun. Kajian yang diperlukan meliputi bangunan-bangunan yang ada dalam kompleks keratin, model-model arsitekturnya, tata massa bangunan, tata lansekap, dan berbagai perangkat yang harus terdapat dalam setiap bangunan termasuk aktivitasnya. tya/slm
10 November 2008
Pangeran Hidayatullah Diajukan Dapat Gelar Pahlawan
Banjarmasin,KS
Pemprov Kalsel mulai menyusun dan melengkapi dokumen persyaratan pengajuan gelar pahlawan kepada tokoh dan penjuang daerah, Pangeran Hidayatullah kepada pemerintah pusat.
“Desember nanti kita akan melakukan seminar membahas ini dengan pihak terkait untuk jadi bahan mengajukan permohonan gelar pahlawan,” ujar Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial (Kessos) Kalsel, Drs Bahtiar Hanafiah kepada wartawan, Senin (10/11) usai upacara peringatan hari pahlawan ke 62 di kantor Gubernur Kalsel.
Pengumpulan data Pangeran Hidayatullah makamnya ada di Cianjur Jawa Barat, melibatkan pihak keluarga atau ahli waris.”Syarat syarat pengajuan gelar ada, tinggal kita melengkapinya,” ujar pria yang biasa disapa Toto tersebut.
Ditanya apakah ada kemungkinan melakukan pemindahan makam ke Kalsel seperti yang dilakukan kepada Pangeran Antasari, menurutnya sangat sulit dilakukan, karena banyak keluarga almarhum yang menetap di Cianjur tersebut.
Masih terkait dengan penghargaan kepada para pahlawan, khususnya tokoh daerah, dilakukan rehab makam yakni makam Hasan Basri, Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah.
“Dananya sekitar Rp700 juta dari anggaran tahun 2008 dan 2009,” jelasnya.
Acara peringatan diisi dengan penandatanganan prasasti pemugaran makam Pangeran Antasari dan Hasan Basri oleh Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin disaksikan Ketua DPRD Kalsel, Anang Hairin dan Wakil Gubernru Kalsel, HM Rosehan NB SH.
Menteri Sosial, Bahtiar Chamsyah melalui pidato tertulis yang dibacakan gubernur mengatakan, peristiwa 10 Novemeber memang patut dikenang setiap tahunnya untuk mengingatkan dan membangkitkan semangat dalam mempertahankn dan mengisi kemerddekaan.
Upaya meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan telah menuntut pengorbanan yang besar dari para pendahulu negeri, salah satunya adalah pertempuran 10 Novemeber 1945 di Surabaya.
Pertempuran 10 November adalah peristiwa heroik yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan menimbulkan banyak korban jiwa berjatuhan dikalangan rakyat. Baik tua muda, pria wanita , pejuang terlatih maupun rakyat biasa.
Dengan tekad kuat dan semangat membara, mereka maju ke medan perang dengan pantang menyerah, tanpa pamrih, percaya kepada kemampuan sendiri untuk menghadapi gempuran bangsa asing yang ingin berkuasa kembali di Indonesia.
Semangat dan nilai-nilai kepahlawanan serta wawasan kebangsaan yang tersirat dalam pertempuran 10 November itu hendaknya dapat dihayati dan menjadi inspirasi memacu dan memicu dalam mengisi kemerdekaan.
Untuk itu ia mengajak kepada segenap bangas Indonesia dengan semangat kepahlawanan dan wawasan kebangsaan yang telah ditunjuk para pendahulu negeri ini sebagai pemicu untuk berperan aktif memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan bidang tugas masing-masing.
Dengan dilandasi kesungguhan dan semangat nilai-nilai kepahlawanan serta wawasan kebangsaan, bukanlah hal yang mustahil dapat mengatasi segala permasalahan yang menghadang negeri ini.
Usai acara, gubernur sempat menyampaikan sambutan khusus kepada pejuang Kalsel yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kalsel sekaligus memberikan tali asih.
08 Oktober 2008
Duta Kalsel Kenalkan Mamanda dan Arguci
Langganan:
Postingan (Atom)