Banjarmasin, KS
Rencana pembangunan replika keraton Banjar tetap dijalankan dengan diawali dengan penelitian. Hasilnya, Kota Banjarmasin dan Martapura menjadi obyek yang akan dipertimbangkan.
Penelitian dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daeah Provinsi Kalsel bekerjasama dengan Unlam Banjarmasin, mencakup lokasi dan desain bangunan yang akan dipakai pada replika.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalsel Ir Suryatinah kepada wartawan menekankan pembangunan replika Keraton Banjar adalah untuk media belajar dan pariwisata.
“Jangan asal dibangun, tetapi yang penting lokasinya harus mudah diakses dan untuk media belajar serta pariwisata. Sehingga orang luar mengetahui sejarah kerajaan Banjar yang terkenal di Kalsel,” ujarnya usai Pembukaan Seminar Kajian Lokasi Pembangunan Model Replika Kerajaan Banjar, Kamis (23/4).
Seminar menghadirkan pihak terkait diantaranya budayawan, dinas pemuda, olahraga, kebudayaan dan pariwisata dan pihak lainnya.
Pada analisis pemilihan lokasi pembangunan replika Keraton Banjar, Kota Banjaramsin memiliki skor 12 atau tertinggi dibanding daerah lainnya.
Artinya, Banjarmasin dinilai kaya akan aspek sejarah, aspek arkeologi dan arsitektur.
Dari segi sejarah, di Kota Banjarmasin terdapat Kampung Kuin sebagai lokasi keraton pertama, Banua Anyar, kawasan Sei Mesa yang juga lokasi keraton Banjar serta banyak dokumentasi sejarah.
Pada Kota Banjarmasin, juga terdapat makam raja-raja dan mesjid tradisional serta terdapat rumah rumah dan pola perkampungan tradisional lengkap dengan kehidupan masyarakatnya.
Sedangkan pada Kota Martapura, terdapat lokasi Keraton Banjar di Kampung Keraton (eks RS Ratu Zaleha), Batang Banyu/Teluk Selong Ulu dan Karang Intan.
“Alternatif lokasi di Kabupaten Banjar misalnya di eks Rumah Sakit Ratu Zaleha, Kampung Keraton dan Teluk Selong. Semua itu menggambarkan replika sesungguhnya dari Keraton Banjar dulu,” terang mantan kepala dinas kelautan dan perikanan provinsi Kalsel itu.
Kondisi sesungguhnya yang menggambarkan tradisi zaman dulu misalnya masyarakat beragama Islam, religius, memelihara budaya sungai, hubungan kekerabatan dan memelihara tradisi.
Selain Kota Banjarmasin dan Martapura, alternative lokasi lainnya adalah di Amuntai, Marabahan dan Banjarbaru.
Suriatinah mengungkapkan, setelah diseminarkan, maka nanti akan ditetapkan desain yang dipakai dari replika Keraton Banjar yang akan dibangun.
Pada seminar yang dibuka Sekdaprov Kalsel Muchlis Gafury kemarin, tim peneliti merekomendasikan berbagai hal. Diantaranya adalah perlu adanya kajian lanjutan berkait bentuk arsitektur keraton yang akan dibangun. Kajian yang diperlukan meliputi bangunan-bangunan yang ada dalam kompleks keratin, model-model arsitekturnya, tata massa bangunan, tata lansekap, dan berbagai perangkat yang harus terdapat dalam setiap bangunan termasuk aktivitasnya. tya/slm
22 April 2009
Banjarmasin dan Martapura jadi Alternatif Replika Keraton Banjar
Banjarmasin, KS
Rencana pembangunan replika keraton Banjar tetap dijalankan dengan diawali dengan penelitian. Hasilnya, Kota Banjarmasin dan Martapura menjadi obyek yang akan dipertimbangkan.
Penelitian dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daeah Provinsi Kalsel bekerjasama dengan Unlam Banjarmasin, mencakup lokasi dan desain bangunan yang akan dipakai pada replika.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalsel Ir Suryatinah kepada wartawan menekankan pembangunan replika Keraton Banjar adalah untuk media belajar dan pariwisata.
“Jangan asal dibangun, tetapi yang penting lokasinya harus mudah diakses dan untuk media belajar serta pariwisata. Sehingga orang luar mengetahui sejarah kerajaan Banjar yang terkenal di Kalsel,” ujarnya usai Pembukaan Seminar Kajian Lokasi Pembangunan Model Replika Kerajaan Banjar, Kamis (23/4).
Seminar menghadirkan pihak terkait diantaranya budayawan, dinas pemuda, olahraga, kebudayaan dan pariwisata dan pihak lainnya.
Pada analisis pemilihan lokasi pembangunan replika Keraton Banjar, Kota Banjaramsin memiliki skor 12 atau tertinggi dibanding daerah lainnya.
Artinya, Banjarmasin dinilai kaya akan aspek sejarah, aspek arkeologi dan arsitektur.
Dari segi sejarah, di Kota Banjarmasin terdapat Kampung Kuin sebagai lokasi keraton pertama, Banua Anyar, kawasan Sei Mesa yang juga lokasi keraton Banjar serta banyak dokumentasi sejarah.
Pada Kota Banjarmasin, juga terdapat makam raja-raja dan mesjid tradisional serta terdapat rumah rumah dan pola perkampungan tradisional lengkap dengan kehidupan masyarakatnya.
Sedangkan pada Kota Martapura, terdapat lokasi Keraton Banjar di Kampung Keraton (eks RS Ratu Zaleha), Batang Banyu/Teluk Selong Ulu dan Karang Intan.
“Alternatif lokasi di Kabupaten Banjar misalnya di eks Rumah Sakit Ratu Zaleha, Kampung Keraton dan Teluk Selong. Semua itu menggambarkan replika sesungguhnya dari Keraton Banjar dulu,” terang mantan kepala dinas kelautan dan perikanan provinsi Kalsel itu.
Kondisi sesungguhnya yang menggambarkan tradisi zaman dulu misalnya masyarakat beragama Islam, religius, memelihara budaya sungai, hubungan kekerabatan dan memelihara tradisi.
Selain Kota Banjarmasin dan Martapura, alternative lokasi lainnya adalah di Amuntai, Marabahan dan Banjarbaru.
Suriatinah mengungkapkan, setelah diseminarkan, maka nanti akan ditetapkan desain yang dipakai dari replika Keraton Banjar yang akan dibangun.
Pada seminar yang dibuka Sekdaprov Kalsel Muchlis Gafury kemarin, tim peneliti merekomendasikan berbagai hal. Diantaranya adalah perlu adanya kajian lanjutan berkait bentuk arsitektur keraton yang akan dibangun. Kajian yang diperlukan meliputi bangunan-bangunan yang ada dalam kompleks keratin, model-model arsitekturnya, tata massa bangunan, tata lansekap, dan berbagai perangkat yang harus terdapat dalam setiap bangunan termasuk aktivitasnya. tya/slm
21 April 2009
Produksi Padi Petani HSS Naik
Produksi padi petani di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) tahun ini mengalami peningkatan dari sebelumnya. Hal ini diketahui setelah dilakukan pengambilan sampel atau ubinan di tiga desa yakni Desa Telaga Langsat, Mandala dan Lok Binuang.
Dari 7 lokasi terpisah, diketahui rata rata hasil padi petani yang dibina dengan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) mencapai 7,49 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Angka tersebut lebih tingi dari tahun lalu yang hanya mencapai 5,6 ton GKP per hektar.
Hal tersebut terungkap pada acara temu lapang kelompok tani (Poktan) Pala Laba Desa Telaga Langsat Kecamatan Telaga Langsat Kabupaten HSS dengan jajaran Dinas Pertanian,Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, Dinas Pertanian HSS, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, BPS Kalsel, dan pihak terkait lain, Selasa (21/4) di Desa Telaga Langsat.
Dialog berlangsung setelah dilakukan ubinan di beberapa titik. Hasilnya, dilokasi tersebut rata rata produksi padi yang dikelola Poktan Pala Laba mencapai 4,78 kilogram per ubinan atau 7,6 ton GKP.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Bersama, Rusli Anwar mengatakan, hasil yang mereka capai tidak lepas dari peran Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT) yang mengadakan pertemuan secara berkala untuk membahas berbagai hal seperti pengetahuan tentang bagaimana awal pengolahan tanah, perlakukan penyemaian padi, cara menanam dengan teknis anjuran baris dan legowo sampai masalah hama dan cara pengendaliannya.
“Yang jadi masalah kami sekarang, kami belum punya mesin perontok dan kalau bisa tolong jalan di sekitar sini diperluas agar mudah mengangkut hasil panen,” pintanya dalam sesi dialog.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hultikultora Pangan Kalsel Yohanes Sriyono berjanji akan mencatat masalah kebutuhan mesin perontok tersebut bila pihak kabupaten tidak bisa memfasilitasinya.
“Biar kita catat dulu, kalau kabupaten (Dinas Pertanian HSS,red) tidak bisa, baru kita carikan jalan keluarnya,” janji Sriyono.
Pada kesempatan tersebut, Sriyono menganjurkan petani terus berupaya meningkatkan hasil pertanian mereka karena pendekatan bidang pertanian sekarang adalah berupa agrobisnis.
“Sekarang kita berpikir untung rugi, bukan sekedar bisa tanam lalu panen,” ingatnya.
Lebih lanjut disarankan, petani supaya melakukan efisiensi penggunaan pupuk sesuai kebutuhan dan pemilihan bibit padi unggul. ”Pupuk yang berlebihan tidak akan memberikan produksi yang banyak, tetap saja. Soal bibit, biar sedikit mahal tidak apa apa, tapi hasilnya akan lebih besar,” ujarnya.
Produksi padi Kalsel tahun 2008 hingga Agustus mencapai berkisar 1,3 juta hingga 1,5 juta ton GKG. Untuk mencapai target produksi tahun ini sebesar 2 juta ton, pihaknya mengajukan permintaan kepada pemerintah menyediakan pupuk bersubsidi sebesar 65.000 ton. slm
20 April 2009
Waspadai Flu Singapura
BEBERAPA Minggu terakhir, masyarakat di wilayah Jakarta dan Depok dihebohkan dengan munculnya penyakit yang diistilahkan dengan flu singapura. Gejala yang muncul tidak jauh brbeda dengan flu biasa yakni demam dan disertai sariawan dalam rongga mulut, tenggorokan meradang, dan muncul bercak-bercak hingga cacar air di kaki, telapak tangan, serta telapak kaki.
penyakit flu Singapura dibawa masuk oleh mereka yang masuk ke Indonesia setelah berpergian atau berlibur dari luar negeri. Masa inkubasi selama tujuh hari. Penyakit ini dengan cepat menular melalui udara, percikan air liur, urine, feses, dan bersentuhan langsung dengan penderita.
Itu sebabnya, Kepada Dinas Kesehatan Kalsel, drg Rosihan Adhani mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap serangan penyakit flu Singapura yang menurut ilmu kesehatan masih tergolong Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM) atau Hand Foot Mouth Disease (HFMD).
Pejabat atau masyarakat yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri seperti studi banding atau rekreasi, disarankan tidak memilih negara Singapura sebagai tempat tujuan, tapi mencari alternatif yang lebih aman.
“Lebih baik ke Bali atau ke tempat mana saja selain Singapura,” ujarnya kepada wartawan, Senin (20/4).
Dikatakan, dalam dunia kedokteran, tidak ada istilah 'Flu Singapura', tapi yang ada adalah PTKM atau Hand Foot Mouth Disease (HFMD) yang disebabkan oleh virus. Pada dasarnya penyakit ini bukan penyakit yang berat. Pasien dapat sembuh dalam waktu 7-10 hari dengan mengkonsumsi makanan yang cukup protein dan kalori.
Tanda-tanda penyakit PTKM antara lain demam, kemerahan dan pelepuhan di telapak kaki, tangan dan kulit bagian dalam rongga mulut, tidak nafsu makan, lesu dan nyeri tenggorokan. Setelah satu-dua hari demam, timbul keluhan nyeri di mulut mulai dari melepuh sampai berlendir di lidah, gusi atau bagian dalam mulut lain.
Pencegahan penyakit ini lanjut Rosihan Adhani dapat dilakukan dengan kebiasaan menjaga kebersihan perorangan seperti mencuci tangan dengan sabun dan menutup mulut dan hidung bila batuk dan bersin. Kemudian dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan bergizi danseimbang dan desinfeksi benda tang terkontaminasi sekresi.
“Hanya sedikit orang yang mempunyi kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sesudah melakukan kegiatan seperti membersihkan kotoran anak,” ujar Rosihan yang menyayangkan pola hidup masyarakat yang masih kurang sehat.
Sementara upaya yang dilakukan pihaknya untuk mengantisipasi menyebarnya penyakit ini di masyaraikat, dilakukan penyuluhan tentang gejala gejala penularan yang disertai pencegahannya, menyiapkan sarana kesehatan, dan menghimbau masyarakat memberikan waktu isitirah yang cukup untuk anak bila mulai terserang flu ini.
“Hanya sedikit orang yang mencuci tangan sesuai. slm
16 April 2009
Pusat Back Up DPP Inkindo Kalsel
HAKI Bahas Alternatif Konstruksi di Tanah Lunak
Peserta kursus singkat ketika mendengarkan paparan nara sumber (foto ist/brt)
Sebanyak 111 tenaga ahli konstruksi, mahasiswa dan masyarakat umum di Kalsel, terlibat pembahasan masalah alternatif konstruksi di tanah lunak melalui Short Course (kursus singkat) yang diselanggarakan Himpunan Ahli Konsultan Indonesia (HAKI) Kalsel, Kamis (16/4) di Hotel Arum Banjarmasin.
Short Course yang dilaksanakan dua hari berturut turut tersebut dinilai efektif dalam menunjang kegiatan pembangunan di Kalsel, khususnya terkait dengan konsruksi bangunan dengan struktur tanah yang lunak karena sebagian besar berada di atas daerah rawa.
Ketua Komda HAKI Kalsel, Budi Antara ST IP Md mengatakan, kegiatan yang dirangkai dengan pameran teknis dan sertifikasi bersama tersebut sekaligus bertujuan memberikan pembekalan kepada ahli ahli konstruksi di daerah di bidang teknis sipil.
Perkembangan dunia kontruksi dewasa ini yang kompleks, otomatis memerlukan penanganan dari tenaga tenaga ahli-ahli yang professional di bidangnya, sehingga menghasilkan kinerja maksimal.
Di tempat yang sama, Ketua Panitia Pelaksana, Ir Ifansyah Noor IP Md menambahkan, kegiatan ini merupakan salah satu sumbangsih pihaknya di jajaran HAKI dalam andil membantu optimalisasi pembangunan yang dilakukan pemerintah di daerah sehingga berhasilguna.
Lebih lanjut diharapkan Ifansyah, kegiatan ini meningkan pengetahuan bagi anggota, pemerintah dan dunia usaha, menumbuhkembangkan kemandirian yang bebas intervensi dengan semangat kebersamaan, meningkatkan Sumber Daya Manusia untuk menjadi unggul dan maju memiliki daya saing dan daya sanding
Selanjutnya diharapkan mampu menciptakan Pola Interaksi yang harmonis dan berkesinambungan diantara Komda HAKI Kalsel, pemerintah, anggota Haki serta masyarakat pengguna jasa konstruksi untuk sharing ilmu pengetahuan.
“Short Course juga untuk untuk memberikan sedikit pembekalan karena setelah acara short course ini akan diadakan sertifikasi kepada anggotanya untuk angkatan yang ke VI,” jelasnya.
Sementara itu, Walikota Banjarmasin HA Yudhi Wahyuni Usman yang hadir di acara tersebut, mengajak anggota HAKI supaya memberikan konstribusi dalam pelaksanaan pembangunan di tanah yang lembek seperti di daerah ini.
“Seminar yang dilaksanakan HAKI ini sangat bagus dalam menunjang kegiatan pembangunan, karena akan mendapat manfaat yang cukup baik,’’ucapnya.
Terkait dengan sertifikasi, kegiatan ini akan menunjang tenaga ahli untuk mendapat pengakuan keahlian tersebut. Sertifikasi diperlukan untuk melihat kualitas dari ahli konstruksi yang ada.
“Memang masih ada sekitar 100 anggota (HAKI Kalsel,red) yang belum memiliki SKA dari 234 anggota yang ada,” jelas Budi Antara.
Untuk mendapatkan SKA tersebut terangnya lagi, anggota tidak saja harus menyelesaikan pendidikan S-1 dibidangnya, tapi harus memiliki pengalaman minimal 3 tahun dan mengumpulkan nilai minimal 50.
Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini juga diikuti 111 orang 95 diantaranya dari anggota, 5 orang masyarakat, dan 11 orang mahasiswa. Sementara anggota HAKI sediri berjumlah 237 orang dengan 151 orang sudah mengikuti program sertifikasi.
slm
Langganan:
Postingan (Atom)